Selasa, 15 Maret 2011

Ceramah MaulidQ


 Assalaamu’alaikum, warahmatullaahi wabarakaatuh.
Tiada kata yang lebih pantas untuk kita ucapkan selain memanjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan kepada kita segala rahmat, taufiq, dan hidayahnya. Sehingga kita masih dapat menikmati anugrah terindahnya yang ada dimuka bumi ini.
Shalawat serta salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita dari jalan gelap gulita menuju jalan terang benderang.
Yang saya hormati Hadirin dan Hadirat Rahimakumullah,
Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya, untuk membawakan ceramah saya yang berjudul “Urgensi Maulid Nabi Dalam Kehidupan”
Pada Tanggal 12 Rabiul Awal 1432 H, bertepatan pada tanggal 15 Februari kemarin seluruh kaum muslim merayakan maulid Nabi Muhammad SAW, tidak lain merupakan warisan peradaban islam yang dilakukan secara turun temurun.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Ada tradisi umat Islam di banyak negara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunai, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, dan lain sebagainya, untuk senantiasa melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Peringatan Maulid Nabi SAW, peringatan Isra’ Mi’raj, peringatan Muharram, dan lain-lain. Bagaimana sebenarnya aktifitas-aktifitas itu? Secara khusus, Nabi Muhammad SAW memang tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Karena tidak pernah menyuruh, maka secara spesial pula, hal ini tidak bisa dikatakan “masyru’” (disyariatkan), tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan teologi agama.
Yang perlu kita tekankan dalam memaknai aktifitas-aktifitas itu adalah “mengingat kembali hari kelahiran beliau atau peristiwa-peristiwa penting lainnya dalam rangka meresapi nilai-nilai dan hikmah yang terkandung pada kejadian itu”. Misalnya, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Itu bisa kita jadikan sebagai bentuk “mengingat kembali diutusnya Muhammad SAW” sebagai Rasul. Jika dengan mengingat saja kita bisa mendapatkan semangat-semangat khusus dalam beragama, tentu ini akan mendapatkan pahala. Apalagi jika peringatan itu betul-betul dengan niat “sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW”.
Tujuan Maulid ialah untuk mengingat bahwa kita harus mengikuti Nabi Muhammad SAW yang diutus oleh Allah sebagai sebagai suri tauladan umat manusia. Nah, pertanyaannya  Apakah benar bahwa kita masih mengikuti Nabi SAW? Kalau masih mengikuti Nabi Muhammad SAW, maka Maulid bagus. Tetapi kalau kita tidak mengikutinya, buat apa kita rayakan Maulid setiap tahun?
Kalau kita mau bicara tentang anjuran dan kewajiban bagi ummat Islam untuk mengikuti Nabi SAW, maka ada ayat-ayat penting yang perlu kita pahami.
1.       QS. Al-Araaf 7:158, yang artinya:
Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al-Araaf 7:158)
2.       QS. Al-Imran 3: 31-32, yang artinya:
Katakanlah: 31."Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 32. Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Al-Imran 3:31-32)  
Dari kedua ayat tersebut maka sudah jelaslah tujuan kita hidup didunia ini yaitu hanya untuk Allah dengan menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai tauladan hidup.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah,
Kedatangan bulan Maulid Nabi merupakan “stop point” untuk kita memperbaharui keyakinan kita terhadap kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah SWT yang paling dicintai dan meningkatkan komitmen untuk menunaikan keyakinan itu. Urgensi maulid yang sebenarnya adalah bukan seberapa meriah kita merayakan maulid itu tapi moment maulid digunakan untuk lebih meningkatkan keyakinan dan kecintaan kita terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai wujud keimanan dan kecintaan kita kepada Allah SWT dengan menunaikan sunnah-sunnah dan ajarannya. Contohnya tidak hanya mengerjakan shalat wajib 5 waktu, melainkan shalat sunnah juga dikerjakan. Banyak perkara-perkara kecil yang dilaksanakan Rasulullah namun apabila kita melaksanakannya maka subhanallah pahalanya luar biasa besarnya karena merupkan wujud kecintaan kita pada Rasul Allah yang paling Dicintai.
Perkara-perkara yang perlu ditunaikan oleh setiap muslim yang berkaitan dengan keimanannya terhadap nabi Muhammad SAW:
1.       Mencontohi beliau dalam semua perkara dengan berusaha untuk melakukan sunnah-sunnah beliau.
2.       Membaca dan mengkaji buku-buku hadits karena tidak mungkin kita dapat melakukan sunnah Rasulullah s.a.w menyebar dan mempertahankannya jika tidak mengetahuinya. Usaha ini juga penting karena ia akan membantu memperingatkan diri kita yang pelupa, memperbaharui kasih kita kepada Rasulullah s.a.w.
3.      Hendaklah kita sentiasa bershalawat kepada Rasulullah s.a.w sebagai tanda kasih kita kepada beliau dan sebagai sebagian dari zikir harian kita yang akan menyucikan dan menguatkan rohani kita.
Hadirin dan Hadirat yang dimuliakan Allah,
Ada satu kisah Nabi Muhammad SAW ketika saat haji Wada (terakhir) di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi SAW dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku perbuat pada kalian sebagai Nabi. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?
Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi SAW melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah?”. Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab,“Benar ya Rasul!”   
Rasulullah SAW pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah!. Nabi SAW meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya.
Dalam kesempatan ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah SAW. “Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah, semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah.
Mari kita jenguk jendela hati kita semua, agar melihat ruang batin di kedalaman jiwa kita. Benarkah kita telah membuktikan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya? Benarkan kita telah mendenyutkan jantung kita setiap saat, setiap waktu, setiap ruang dan gerak, bersama dzikrullah dalam hati kita? Seberapa persen jumlah ummat Islam seluruh dunia yang melakukan aktivitas mulia dalam jiwanya? Apakah aktivitas mulia itu hanya dilihat dari yang tampak dipermukaan dalam “teater ummat Islam”? Dalam “Gaya hidup beragama”? Dalam “sok religi” atau “Style Islami” di media massa dan kepentingan-kepentingan riya, politik? Kenapa tidak ada upaya untuk menjenguk kegersangan demi kegersangan yang menimpa jiwa ummat ini?
Hadirin dan Hadirat yang dimuliakan Allah,
Mari kita mengingat apa yang dikatakan Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam kitab Al-Hikam, “Apa yang muncul dalam fenomena lahir sesungguhnya akibat dari fenomena batin.”
Jika batin kita tidak mencintai Nabi, atau sekadar “beban kewajiban” saja bersholawat Nabi, maka yang muncul di fenomena lahiriyah hanyalah kecintaan plastik yang palsu atas Nabi SAW. Jika hati kita tak pernah beruntun mendetakkan sholawat Nabi, maka sholawat yang kita ungkapkan pada Nabi hanyalah ekspresi kering dari bibir kita yang tak pernah basah dengan dzikir dan sholawat. Jangan sampai kita merasa dekat dengan Nabi, tapi hati kita jauh dari Nabi.
Jika hal itu tetap ada pada diri kita, maka cobaaan demi cobaan di Padang Mahsyar dunia ini, senantiasa merobek sejarah kita, mengoyak kemuliaan Nabi, merobohkan istana yang sesungguhnya dalam jiwa kita. Inna Lillahi wa-Inna Ilaihi Roji’un.
Mari di moment Maulid Nabi ini kita gerakkan jantung kita, bersama Allah dan RasulNya, kapan, dimana, bagaimana, dalam kondisi apa, dalam situasi apa, agar syafaat beliau melimpah dengan Cahaya, dan kita saksikan bersama “Tidaklah Kami mengutusmu, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta?” . Wallahu alam Bisshowab
Demikian ceramah saya,  Mengutip Kalimat Mario Teguh “Janganlah melihat siapa yang berbicara di depan anda, tapi dengar dan pahami apa yang dibicarakan orang di depan anda itu”. Saya menyadari ceramah ini jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT.  Semoga dapat menjadi renungan dan membuka hati kita untuk senantiasa mencintai Rasulullah sebagai utusan Allah SWT. Amin.
Billahi taufik wal hidayah.... Hadanallahu wa'iyyakum ajma'in... akhiran... aqulu lakum...
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar